Cara Kerja Saya yang Tidak Akan Relevan 3 Tahun Lagi
- Authors

- Name
- Samsul Hadi
- Threads
- @Threads


Saya pernah merasa bahwa cara kerja saya sudah cukup efisien.
Sudah pakai tools yang bagus. Sudah punya rutinitas. Sudah bisa handle beberapa project sekaligus. Outputnya jalan, klien happy, deadline terpenuhi.
Tapi ada satu momen sekitar dua tahun lalu yang bikin saya diam cukup lama.
Saya melihat orang lain yang bekerja di bidang yang sama, tapi output mereka tiga kali lebih banyak, dalam waktu yang lebih singkat, dengan kualitas yang tidak kalah.
Bukan karena mereka lebih pintar. Bukan karena mereka punya tim besar.
Mereka cuma pakai cara kerja yang berbeda.
Dan cara kerja saya yang selama ini terasa sudah bagus, tiba-tiba terasa sangat manual.
Yang Mulai Ketinggalan
Saya tidak berbicara soal tools tertentu. Karena tools itu cepat sekali ganti.
Yang saya maksud adalah pola kerja.
Ada pola-pola yang sudah lama saya pakai dan terasa normal, tapi sebetulnya bisa diotomasi atau dipercepat secara signifikan:
- Menulis dari nol setiap kali, padahal strukturnya sama
- Mencari referensi satu per satu secara manual
- Menyusun outline sendiri dari awal sebelum mulai menulis
- Memformat hal yang sama berulang kali di berbagai platform
- Mengecek kesalahan kecil yang sebetulnya bisa langsung terdeteksi
Bukan hal besar. Tapi kalau dijumlahkan dalam satu minggu, itu jam yang tidak sedikit.
Bukan Soal Malas atau Rajin
Saya ingin meluruskan satu hal dulu.
Ini bukan soal apakah kita malas atau rajin. Saya lihat banyak orang yang sangat rajin, kerja keras, jam kerjanya panjang, tapi outputnya tidak berkembang karena cara kerjanya tidak berubah.
Rajin dengan cara kerja yang ketinggalan hanya bikin kita capek lebih cepat.
Yang mulai terasa kurang relevan bukan orangnya. Yang mulai terasa kurang relevan adalah prosesnya.
Yang Saya Ganti
Saya tidak langsung ganti semua. Itu juga tidak masuk akal.
Saya mulai dari satu hal: mana bagian yang paling banyak makan waktu tapi nilai kreatifnya kecil?
Untuk saya, itu ada di tiga tempat:
Pertama, riset awal. Dulu saya bisa habiskan 30-45 menit hanya untuk mengumpulkan referensi dan konteks sebelum mulai menulis. Sekarang saya bisa kompres jadi 5-10 menit dengan cara yang berbeda.
Kedua, menyusun kerangka. Sebelumnya saya susun dari nol. Sekarang saya mulai dari template mental yang sudah terbukti, lalu saya modifikasi sesuai topik.
Ketiga, adaptasi konten lintas platform. Yang dulu harus ditulis ulang manual satu per satu, sekarang lebih banyak saya selesaikan dengan penyesuaian yang lebih cepat dan terstruktur.
Hasilnya bukan tulisan yang terasa robotik. Justru sebaliknya, karena energi saya bisa lebih fokus ke bagian yang memang butuh pemikiran: sudut pandang, cerita, dan nuansa.
Apa yang Masih Tidak Bisa Diganti
Ini bagian yang sering dilupakan dalam diskusi tentang cara kerja baru.
Bukan semua hal bisa diotomasi atau dipercepat.
Pengalaman nyata tidak bisa diganti. Observasi langsung tidak bisa diganti. Opini yang datang dari menjalani sesuatu, bukan hanya membaca tentangnya, itu juga tidak bisa diganti.
Yang berubah bukan substansinya. Yang berubah adalah proses untuk mewujudkan substansi itu menjadi konten yang bisa dikonsumsi orang lain.
Dan di bagian inilah cara kerja lama mulai terasa lambat.
Tiga Tahun Lagi
Saya tidak tahu persis bagaimana landscape kerja tiga tahun ke depan.
Tapi dari apa yang sudah saya lihat sendiri di dua tahun terakhir, satu hal yang cukup jelas:
Orang yang masih mengerjakan hal-hal rutin, berulang, dan bisa diotomasi secara manual, akan menghabiskan energi di tempat yang harusnya bisa dihemat.
Sementara yang sudah menggeser cara kerjanya ke hal-hal yang memang butuh manusia, yaitu judgment, cerita, relasi, dan perspektif, mereka yang akan lebih tahan lama.
Bukan karena mereka lebih canggih.
Tapi karena mereka tidak buang waktu di tempat yang tidak perlu.
Kesimpulan
Saya tidak menyarankan semua orang langsung bongkar cara kerjanya sekarang juga.
Tapi pertanyaan yang mungkin worth dijawab jujur:
Kalau dilihat satu per satu, mana bagian dari cara kerja kamu hari ini yang sebetulnya sudah bisa digantikan, tapi belum?
Bukan karena tidak ada waktunya.
Tapi karena belum pernah berhenti sejenak untuk mempertanyakannya.
Related Articles
Tulisan lain yang nyambung dengan topik ini.


Saya Hitung: Ganti-ganti Task 10 Kali Sehari Artinya 1-2 Jam Hilang Hanya untuk Warm Up Ulang
Deep work bukan bakat, tapi skill yang bisa dilatih. Cara mengurangi context switching dan masuk ke kerja yang lebih dalam.


Setahun Lebih Kerja Remote dari Rumah, Ini yang Paling Saya Syukuri dan Paling Saya Sesali
Refleksi jujur setelah setahun lebih kerja remote dari rumah: apa yang benar-benar berharga, apa yang menyesal, dan kenapa remote bukan solusi otomatis untuk semua masalah.


Setahun Kerja Remote dari Kandang Ayam. Ini yang Saya Pelajari.
Jam 9 meeting online. Jam 10 cek kandang. Jam 11 balik ke meja. Lebih dari setahun saya jalanin dua hal ini bersamaan. Dan ini yang saya pelajari, yang tidak ada di buku mana pun.
Comments
Komentar akan tampil setelah disetujui.