Setahun Kerja Remote dari Kandang Ayam. Ini yang Saya Pelajari.

Article
Authors
Setahun Kerja Remote dari Kandang Ayam. Ini yang Saya Pelajari.

Jam 9 pagi saya buka laptop untuk meeting.

Jam 10 saya sudah di atas rooftop, cek kondisi kandang.

Jam 11 saya balik ke meja, lanjut kerja.

Ini bukan cerita yang didesain supaya terdengar unik. Ini memang sehari-hari saya. Dan sejujurnya, awalnya saya sendiri tidak yakin ini bisa jalan.

Dua Hal yang Banyak Orang Bilang Tidak Bisa Digabung

Kerja remote sudah saya jalani lebih dari setahun.

Tapi kerja remote sambil ngurusin ternak di rooftop itu kombinasi yang tidak banyak orang bayangkan.

Dan pertanyaan yang paling sering saya dengar dari orang-orang sekitar adalah: "itu bisa serius, nggak?"

Saya juga awalnya bertanya hal yang sama ke diri sendiri.

Ternyata bisa. Tapi ada harga yang harus dibayar. Bukan dalam artian buruk, tapi dalam artian ada hal-hal yang harus dipelajari yang tidak ada di buku mana pun.

Yang Pertama Saya Pelajari: Ritme Itu Berbeda

Kalau kerja remote di kafe atau di rumah biasa, ritme kerjamu cukup tergantung pada mood dan notifikasi.

Kalau ada kandang di rooftop, ritme kamu ikut mengikuti makhluk hidup.

Ayam perlu makan jam tertentu. Kandang perlu dicek pagi dan sore. Kalau ada yang sakit, itu tidak bisa ditunda sampai kamu selesai meeting.

Jadi saya belajar satu hal penting: bukan cara kerjanya yang harus dipaksakan, tapi jadwalnya yang harus dirancang ulang.

Saya mulai pisahkan jam kerja menjadi blok yang lebih sadar. Bukan cuma "jam kerja" dan "jam istirahat", tapi blok mana yang untuk digital dan blok mana yang untuk fisik.

Dan surprisingly, cara ini justru bikin fokus saya lebih baik. Karena transisinya jelas.

Yang Kedua: Capek Fisik dan Capek Mental Itu Berbeda

Ini yang paling menarik dan paling tidak saya duga.

Setelah setengah jam di kandang, lanjut kerja di depan laptop rasanya lebih segar dari sekadar duduk terus dari pagi sampai sore.

Tubuh gerak, pikiran punya jeda.

Ternyata satu hal yang sering membuat kerja remote terasa berat bukan kurangnya motivasi, tapi kurangnya variasi gerak. Kita terlalu lama duduk di satu posisi, di satu ruangan, dengan stimulasi yang itu-itu saja.

Kandang itu, tanpa disengaja, jadi semacam reset alami.

Saya tidak menyarankan semua orang pelihara ayam. Tapi saya menyarankan: cari sesuatu yang memaksa kamu keluar dari layar setidaknya sekali sehari dengan tujuan yang nyata.

Yang Ketiga: Sistem Lebih Penting dari Motivasi

Saya orang yang cukup termotivasi secara natural.

Tapi motivasi itu tidak bisa diandalkan setiap hari. Kadang semangat, kadang tidak.

Yang membuat dua hal itu bisa jalan bersamaan bukan karena saya selalu semangat. Tapi karena ada sistem yang sudah berjalan bahkan ketika semangat sedang turun.

Pakan sudah punya jadwal. Kerja sudah punya jadwal. Laporan sudah punya format. Kandang sudah punya rutinitas pemeriksaan.

Kalau tidak ada sistem, salah satu pasti akan terkorbankan. Biasanya yang fisik, karena yang digital lebih terasa mendesak.

Dengan sistem, keduanya bisa jalan paralel tanpa harus terus-terusan memutuskan mana yang lebih prioritas.

Yang Keempat: Hasilnya Tidak Selalu Kelihatan dari Awal

Ini pelajaran yang paling lambat saya pelajari.

Baik di kerja remote maupun di kandang, ada masa-masa di mana hasilnya tidak langsung terlihat.

Ayam yang sehat dan produksi telur yang stabil tidak datang dalam seminggu. Kerja yang konsisten tidak selalu langsung menghasilkan hal yang spektakuler.

Yang membuat keduanya bertahan bukan hasilnya yang besar, tapi kemampuan untuk terus jalankan rutinitas meski hasilnya belum kelihatan.

Dan saya kira ini pelajaran yang tidak hanya berlaku untuk ternak atau kerja remote. Ini berlaku untuk hampir semua hal yang serius dijalani.

Satu Tahun Lebih dan Ini Kondisinya Sekarang

Saya masih kerja remote.

Saya masih punya kandang di rooftop.

Dan keduanya masih jalan bersamaan.

Bukan tanpa tantangan. Ada hari-hari di mana jadwal bertabrakan, ada kondisi yang tidak terduga, ada momen ketika saya harus milih salah satu karena tidak bisa dua-duanya sekaligus.

Tapi saya tidak menyesal memulainya.

Kalau ada satu hal yang paling saya syukuri dari kombinasi ini: saya jadi lebih bisa membedakan mana yang penting, mana yang sekadar terasa mendesak.

Dan di dunia kerja yang serba cepat dan penuh notifikasi, kemampuan membedakan itu terasa seperti aset yang cukup berharga.

Related Articles

Tulisan lain yang nyambung dengan topik ini.

Comments

Komentar akan tampil setelah disetujui.

Loading comments...