Setahun Lebih Kerja Remote dari Rumah, Ini yang Paling Saya Syukuri dan Paling Saya Sesali

Article
Authors
Setahun Lebih Kerja Remote dari Rumah, Ini yang Paling Saya Syukuri dan Paling Saya Sesali

Ekspektasi awal saya tentang remote work ternyata salah di beberapa hal

Saya mulai kerja remote dengan gambaran yang cukup romantis di kepala: tidak ada macet, bisa kelola waktu sendiri, produktivitas meningkat, hidup lebih seimbang.

Beberapa dari itu benar. Tapi beberapa hal lain yang tidak pernah saya antisipasi justru yang paling membekas, baik yang baik maupun yang menyesalkan.

Ini bukan panduan cara kerja remote. Ini lebih ke refleksi jujur setelah setahun lebih menjalaninya dari rumah, sambil juga mengurus kebun dan kandang.

Yang paling saya syukuri: bisa hadir di momen-momen kecil yang tidak bisa dijadwal

Waktu masih WFO, ada banyak momen yang saya lewatkan karena terikat jam kantor. Bukan karena tidak mau hadir, tapi karena strukturnya tidak mengizinkan.

Sekarang, kalau anak pulang sekolah, saya ada di rumah. Kalau istri perlu diantar cepat, saya bisa. Kalau ada hal kecil yang butuh keputusan segera di rumah, saya tidak perlu "izin dulu" untuk menanganinya.

Ini kelihatannya hal kecil. Tapi setelah setahun, ini yang paling saya syukuri. Ada banyak hal dalam hidup yang nilainya baru terasa saat kita benar-benar hadir di sana, bukan mendengar ceritanya terlambat.

Remote memberi saya kesempatan itu. Dan itu tidak ternilai.

Yang paling saya syukuri: menemukan jam kerja yang benar-benar sesuai ritme saya

Di kantor, semua orang punya jadwal yang sama. Jam masuk sama, jam istirahat sama, rapat ditentukan berdasarkan ketersediaan kolektif.

Remote membuka ruang untuk menemukan kapan saya paling tajam dan paling bisa fokus.

Saya akhirnya sadar bahwa saya paling produktif antara pukul 06.00 sampai 10.00 pagi. Setelah itu, otak saya mulai butuh pergantian ritme. Kalau ada pekerjaan yang perlu konsentrasi tinggi, saya usahakan masuk di jendela waktu itu.

Hasilnya nyata. Output yang biasanya butuh 3 jam bisa selesai dalam 1,5 jam kalau dikerjakan di waktu yang tepat.

Bukan karena lebih pintar, tapi karena akhirnya punya izin untuk bekerja sesuai cara otak saya bekerja, bukan sesuai ekspektasi orang lain tentang seperti apa jam produktif seharusnya terlihat.

Yang paling saya sesali: terlalu lama membiarkan batas antara kerja dan istirahat tidak ada

Ini yang paling jujur harus saya akui.

Karena rumah adalah kantor, dan kantor bisa diakses kapan saja, saya sempat melewatkan berbulan-bulan tanpa tahu kapan hari kerja saya sebenarnya berakhir.

Laptop selalu di meja. Notifikasi selalu bisa dicek. Dan karena tidak ada jam pulang yang nyata, saya sering terus kerja sampai malam, bukan karena ada urgensi, tapi karena tidak ada sinyal bahwa sudah waktunya berhenti.

Itu bukan kerja keras. Itu kecemasan yang menyamar sebagai produktivitas.

Beberapa bulan setelah sadar, saya mulai buat aturan sederhana: ada jam mulai, ada jam selesai, dan setelah jam selesai laptop tutup. Tidak ada yang akan hancur kalau saya berhenti tepat waktu. Dan ternyata, kualitas pekerjaan esok harinya justru lebih baik karena otak sempat benar-benar istirahat.

Saya menyesal butuh waktu terlalu lama untuk sampai ke kesadaran itu.

Yang paling saya sesali: kurang serius membangun koneksi sosial di luar pekerjaan

Waktu masih di kantor, interaksi sosial terjadi secara alami. Ngobrol di pantry, nunggu lift bareng, makan siang bareng tim. Itu semua kelihatannya tidak penting, tapi ternyata memenuhi kebutuhan sosial tanpa disadari.

Remote menghilangkan semua itu sekaligus.

Saya introvert, jadi saya pikir tidak bakal terpengaruh. Ternyata salah. Ada jenis kelelahan yang berbeda yang muncul setelah terlalu lama tidak punya ruang ngobrol santai dengan orang lain di luar konteks pekerjaan.

Yang akhirnya membantu: sesekali kerja dari kafe atau coworking space, aktif di komunitas online yang relevan, dan memastikan ada agenda ketemu orang, meski hanya sekali seminggu dan tidak harus soal kerjaan.

Ini bukan tentang jadi orang yang lebih ekstrovert. Tapi tentang mengakui dan mengisi kebutuhan yang tetap ada, bahkan untuk introvert.

Remote tidak otomatis membuat hidup lebih baik

Saya punya teman yang mencoba remote dan akhirnya memilih balik ke kantor. Bukan karena gagal, tapi karena memang gaya kerja itu tidak cocok untuk mereka.

Remote work memberi banyak kebebasan. Tapi kebebasan itu datang dengan tanggung jawab yang tidak kecil: buat struktur sendiri, jaga batas sendiri, atur energi sendiri.

Bagi yang tidak tertarik dengan itu, atau memang lebih produktif dengan ritme terstruktur dari luar, remote bisa lebih menguras daripada WFO.

Tidak ada yang salah dengan preferensi itu. Yang penting adalah jujur pada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya lebih cocok, bukan sekadar ikut tren karena remote terdengar lebih bebas dan modern.

Setahun lebih, ini yang saya bawa

Remote bukan tujuan. Ini alat.

Yang menentukan apakah remote benar-benar bekerja bukan fasilitas atau lokasi, tapi seberapa sengaja kita mendesain ritme kerja dan kehidupan di sekitarnya.

Syukur terbesar saya: bisa hadir lebih banyak di momen yang benar-benar penting, di tempat dan bersama orang yang paling berarti.

Sesalan terbesar saya: butuh waktu terlalu lama untuk belajar bahwa hadir untuk diri sendiri, termasuk beristirahat dengan benar, juga bagian dari kerja yang bertanggung jawab.

Kalau kamu sedang mempertimbangkan remote, atau sudah menjalaninya dan merasa ada yang tidak beres, mungkin pertanyaan yang paling jujur bukan "apakah remote cocok untuk saya?" tapi "ritme seperti apa yang sebenarnya saya butuhkan untuk bisa kerja dengan baik dan hidup dengan layak?"

Jawaban dari sana biasanya lebih berguna dari tips remote work mana pun.

Related Articles

Tulisan lain yang nyambung dengan topik ini.

Comments

Komentar akan tampil setelah disetujui.

Loading comments...